Nasalis larvatus

My Photo
Name:
Location: Kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat, Indonesia

Friday, February 17, 2006

MENANAM POHON PUN IBADAH

“Tidaklah seorang muslim yang menanam pohon-pohonan atau tumbuh-tumbuhan, yang sebagian hasilnya dimakan oleh burung, manusia atau hewan, melainkan apa yang dimakan itu menjadi shadaqah baginya” (H.R. Bukhari, Muslim, dan At-Turmudzi).

Disadari atau tidak, ketika kita menanam pohon atau tumbuhan, yang hadir dalam benak hanyalah aspek ekonomi. Bila mengkaji lebih mendalam, kita akan menemukan aspek yang jauh lebih penting dibanding aspek tersebut. Sebagai makhluk yang mempercayai adanya Tuhan, tidak syak lagi akan mendapatkan aspek religius.

Hingga kini, aspek religius merupakan aspek yang belum banyak dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat kita dalam kaitannya menanam pohon. Kita hanya senang mengitung-hitung berapa nominal yang akan diperoleh. Semua itu hanyalah akan melahirkan “ide-ide jangka pendek”. Kita semua dapat memakluminya. Ini merupakan konsekuensi dari jaman yang serba materialis dan sekuler.

Tidaklah heran ketika tanaman kita mendapat serangan hama atau penyakit, akan muncul rasa kecewa sekaligus marah dan sedih. Tidak menutup kemungkinan pula kita akan menjadi “sang eksekutor” yang cukup menakutkan. Ketika gerombolan tikus memakan padi, kita meracunnya. Ketika kawanan tupai menyerang kelapa di kebun, kita menembakinya. Ketika kelompok kelelawar memanen buah-buahan, kita membunuhnya. Tampaknya kita tidak mau berbagi rejeki sedikitpun dengan makhluk lainnya.

Hadits di atas semoga menjadi pencerahan bagi kita semua karena telah memberikan kabar yang amat menggembirakan. Dengan menanam pohon kita akan mendapat pahala dari Allah Swt. Tidak syak lagi, pohon yang tumbuh besar akan memberikan banyak manfaat bagi semua makhluk hidup dan lingkunganya. Tidak satu bagianpun dari pohon yang tidak memberikan manfaat. Pada saat berbunga, ratusan kumbang dan burung beramai-ramai menghisap madunya. Pada saat berbuah, ratusan satwa bersukacita memanennya, tak ketinggalan juga manusia. Daun-daun yang berguguran menjadi makanan bagi jutaan mikroorganime yang ada di bawahnya. Tajuk yang lebat dan rindang menjadi tempat bersarang bagi berbagai satwa serta tempat peneduh yang menyejukkan bagi setiap yang membutuhkan. Akar-akar yang menancap ke bumi menjadi penahan longsor dan erosi. Oksigen yang dihasilkan menjadi udara yang sangat menyegarkan bagi setiap makhluk hidup. Dahan dan ranting yang mengering menjadi sumber kayu bakar bagi manusia.

Tidakkah kita tertarik akan makna yang dikandung dalam hadits tersebut? Hanya dengan menanam satu pohon saja, kita akan memperoleh banyak pahala, karena semua makhluk hidup akan merasakan banyak manfaatnya. Pahala akan tetap mengalir selama pohon itu ada.
Bayangkan, berapa pahala yang akan didapat bila pohon yang kita tanam itu berjumlah sepuluh, seratus, atau seribu batang? Belum lagi mengalikannya dengan usia keberadaan pohon tersebut: sepuluh, dua puluh, lima puluh, atau seratus tahun. Dan kita tahu bahwa setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik pohon tersebut senantiasa memberikan manfaat. Sungguh luar biasa bukan. Allah Swt akan memberikan imbalan kepada setiap hamba yang berbuat kebaikan. Hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui.

Hitungan ini akan lebih fantastis lagi bila tanaman yang kita tanam dapat menyimpan air dalam tanah. Kemudian air yang tersimpan itu menjadi berpuluh-puluh mata air yang mampu mengairi danau dan sungai sepanjang tahun. Sedangkan di bagian hilirnya terdapat ratusan atau ribuan hektar lahan pertanian serta ribuan manusia yang semuanya memanfaatkan air dari kedua sumber tersebut. Barangkali tidaklah berlebihan bila semua ini kita mengistilahkannya sebagai “multi level pahala”. Gambaran ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua masyarakat Wilayah III Cirebon atau yang lainnya. Dengan memelihara dan melakukan penghijauan di Kawasan Hutan Gunung Ciremai, berarti kita telah melakukan pekerjaan yang sangat mulia. Kita telah menyediakan air bagi masyarakat Kabupaten Kuningan, Kabupaten/Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, bahkan sampai Kabupaten Tegal dan Ciamis. Semua itu adalah ibadah.

Allah menciptakan manusia di muka bumi ini sebagai khalifah. Manusia adalah pemimpin bagi seluruh alam. Tidak ada pengecualian, baik manusia, tumbuhan, binatang, maupun mikroorganisme, bahkan benda mati sekalipun, semuanya di bawah tanggung jawab manusia. Manusia harus menjaga dan mengelolanya sebaik mungkin. Ini adalah amanat dari-Nya. Sebenarnya, ketika Allah Swt. meniupkan roh ke dalam raga kita, ketika itu kita bersepakat dengan-Nya untuk menjadi manusia yang patuh dan taat. Allah Swt akan murka bila manusia mengingkari kesepakatan-Nya. Sebaliknya, Allah Swt. akan memberikan imbalan yang berlipat ganda bila kesepakatan itu dilaksanakan sebaik-baiknya.

Sebagai pemimpin di muka bumi, manusia harus senantiasa melayani dan memenuhi hak-hak seluruh isi alam. Tidak hanya manusia yang harus dilayani, melainkan juga tumbuhan dan binatang termasuk tanah sebagai tempat berpijaknya. Semuanya harus dilaksanakan dengan adil dan penuh tanggung jawab. Bila tumbuhan atau binatang sakit, manusialah yang harus mengobati dan merawatnya. Bila lahannya rusak, manusialah yang harus memperbaikinya. Jangan malah memusnahkannya.Jelaslah bahwa Allah Swt. akan memberikan pahala kepada hamba-Nya bukan hanya karena hamba tersebut telah menunaikan ibadah shalat, zakat, puasa, atau naik haji. Allah Swt. juga akan memberikan hadiah kepada hamba yang melaksanakan setiap kebajikan, sekalipun hanya menanam pohon atau tumbuhan. Untuk itu marilah kita menanam pohon demi kebaikan di dunia dan akirat. Selama pohon itu ada, selama itu pula pahala senantiasa mengalir. Subhanallah. Wallahu a’lam bishawab.

HUJAN TURUN, BANJIRPUN TIBA

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatannya, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS : 30 : 41)”.

Bencana longsor merupakan salah satu persoalan yang sering muncul sepanjang tahun di negeri ini. Lebih tragis lagi, bencana itu sering menyebabkan melayangnya nyawa manusia, seperti yang terjadi di Kecamatan Panti dan Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, tanggal 1 januari 2006 yang lalu. Musibah yang terjadi pada minggu malam itu telah menelan lebih dari 60 jiwa manusia.

Tidaklah berlebihan bila ada yang mengatakan, Indonesia adalah negara sejuta bencana. Setiap hari kita selalu menyaksikan berita bencana alam, baik itu di televisi maupun surat kabar. Bagi masyarakat Indonesia, bencana alam sudah menjadi menu sehari-hari. Mereka tidak asing lagi dengan kejadian itu, meskipun sering menimbulkan duka yang teramat dalam.

Dari tahun ketahun bencana itu tidak pernah berhenti. Bahkan bertambah parah, dan korbanpun bertambah banyak. Contohnya sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat 647 kejadian bencana di Indonesia. Sekitar 85% atau sekitar 550 kejadian, bencana tersebut merupakan banjir dan longsor. Jumlah korban jiwa yang diakibatkan oleh kedua jenis becana ini adalah 1.711 jiwa. Bila dirata-ratakan, jumlah korban yang tewas selama periode tersebut adalah 311 orang per tahun. Artinya, dalam tujuh hari, sekitar 6 orang meninggal karena terseret banjir dan tertimbun tanah longsor.

Berdasarkan pemantauan Wahana Lingkungan Hidup, sejak pertengahan tahun 2003 sampai pertengahan 2004, telah terjadi ratusan bencana dan mengakibatkan hampir 1000 korban jiwa. Lebih mengerikan lagi, bencana yang terjadi pada akhir tahun 2004, yakni tragedi tsunami. Diperkirakan sekitar 200 ribu jiwa melayang. Tingginya korban bencana tsunami, salah satunya disebabkan oleh hilangnya hutan pantai dan hutan bakau di sepanjang pesisir barat Propinsi Nangro Aceh Darusalam. Hal ini karena massa air yang berasal dari laut tidak ditahan terlebih dahulu oleh kedua hutan tersebut.

Terjadinya bencana alam hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Khusus di Pulau Jawa, berdasarkan data yang tercatat oleh Kimpraswil, bencana alam yang terjadi sejak tahun 2003 hingga pertengahan tahun 2005 sebanyak 45 kejadian, dan menewaskan 154 orang. Dari semua itu, Propinsi Jawa Barat merupakan propinsi yang paling banyak mengalami bencana. Sebanyak 26 kali terjadi di propinsi ini, dan jumlah yang tewas sebanyak 136 orang.

Terjadinya banjir dan longsor tidak lepas dari aktivitas manusia. Alam tidak akan bereaksi apa-apa terhadap manusia bila manusia juga tidak berbuat sesuatu terhadap alam. Jadi manusialah pemicu terjadinya bencana ini. Aksi dan reaksi adalah sebuah hukum alam. Dalam ilmu kimia, proses reaksi adalah upaya untuk mencapai keseimbangan. Banjir dan lonsor hanyalah bentuk reaksi alam terhadap aksi manusia untuk mencapai keseimbangannya.

Manusia adalah makhluk yang cenderung senang merusak alam. Di Kalimantan, Sumatera, apalagi di Pulau jawa, sebagian besar hutannya sudah rusak. Manusia telah menebang hutan dengan seenaknya. Manusia jarang sekali – bahkan tidak – memikirkan apa yang akan terjadi bila hutan itu ditebang. Yang ada dalam pikirannya hanyalah keuntungan jangka pendek. Mereka lebih suka mengikuti keserakahannya daripada memikirkan dampak yang akan terjadi.
Pengurasan sumberdaya hutan secara berlebihan memberikan dampak negatif yang lebih besar dibanding dampak positifnya. Pemanfaatan hutan secara berlebihan tidaklah menguntungkan. Yang ada hanyalah kerugian, yang besarnya bisa jauh lebih tinggi dibanding keuntungan yang diperoleh karena penebangan.

Banjir dan longsor terjadi karena kerusakan hutan. Hutan yang rusak, telah menghilangkan fungsi ekologi. Ketika hujan turun, hutan tidak mampu menyerap air kedalam tanah secara maksimal. Hutan yang rusak telah mengurangi kesempatan air hujan untuk masuk ke dalam tanah. Pada hutan yang rusak, air yang mengalir melalui permukaan tanah akan lebih besar dibanding air yang meresap ke dalam tanah. Aliran permukaan ini akan mengikis dan mengangkut lapisan atas tanah ke daerah hilir. Pada titik tertentu, kondisi seperti inilah yang akan menyebabkan banjir dan longsor.

Banjir dan longsor yang terjadi di Kecamatan Panti dan Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember disebabkan oleh rusaknya hutan di lereng Pegunungan Agropuro. Demikian juga yang terjadi di Bohorok dan kawasan wisata Pemandian Air Panas Pacet; semua itu karena rusaknya kawasan hutan yang berada di daerah hulunya.

Kondisi hutan Indonesia sudah dalam tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Luas kawasan hutan yang rusak adalah 101,79 juta hektar (Badan Planologi Departemen Kehutanan, 2003). Laju keruskannya mencapai 2,8 juta hektar per tahun. Artinya, setiap menit, hutan ini mengalami pengurangan seluas 5 hektare. Bila kondisi ini dibiarkan tanpa ada upaya perbaikan, maka kurang dari 15 tahun lagi, hutan tropis Indonesia akan hilang. Sangat mengkhawatirkan bukan?.

Pada skala nasional, masyarakat sekitar hutan sering menjadi kambing hitam dalam kerusakan hutan. Banyak pihak menuduh, kerusakan hutan itu akibat penebangan liar oleh masyarakat sekitar. Padahal dalam kerusakan ini banyak komponen yang terlibat, baik oknum pejabat pemerintah, oknum petugas keamanan, dan oknum pengusaha hutan. Masyarakat sekitar hanya komponen kecil saja. Beberapa pejabat pemerintah dan petugas keamanan mudah disuap oleh para pengusaha. Beberapa pegusaha hutan juga sering penampung kayu hasil penebangan liar. Kondisi ini telah membentuk lingkaran setan yang sangat rumit.

Kerusakan hutan lebih disebabkan oleh kesalahan kolektif multi pihak. Sebaliknya, masyarakatlah yang sering menanggung akibatnya. Ketika kemarau tiba, mereka kekurangan air. Ketika hujan turun, mereka terkena longsor dan banjir. Sementara masyarakat sedang tertimpa bencana, para pengusaha hutan dan para oknum asyik berpesta pora menikmati hasil kurasannya.

Berubahnya pola pikir umat manusia secara global telah memicu kerusakan hutan termasuk hutan tropis. Etika manusia terhadap lingkungannya semakin mendekati titik nol. Sebagian besar manusia menganggap hutan adalah sumberdaya alam yang dapat dikuasai. Mereka menganggap alam bisa diperlakukan dengan seenaknya. Mereka tidak menyadari, bila dirinya itu bagian dari alam.

Ketika alam mengeluarakan “amarahnya”, manusia telah menjadi makhluk yang sangat rapuh. Keangkuhannya pun tidak berguna lagi. Ketika banjir datang, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Demikian juga pada saat longsor tiba, manusia tidak bisa banyak berbuat. Bahkan manusia telah menjadi korban dari kemarahan alam itu. Diantara mereka ada yang terbawa hanyut banjir atau tertimbun tanah. Tempat tinggal mereka lenyap dalam sekejap.

Banjir dan longsor adalah upaya alam untuk mencapai kembali keseimbangannya setelah manusia merusaknya. Banjir dan longsor akan tetap terjadi bila kita semua masih senang merusak hutan. Cukup kiranya, tragedi Bohorok, tragedi pemandian air panas Pacet, tragedi Garut, dan tragedi Jember yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu sebagai cermin kita semua. Untuk itu, janganlah menyalahkan alam atau nasib.Mulai saat ini, marilah kita mencintai alam. Marilah kita menghormati alam sebagaimana kita menghormati sesama manusia. Tidak ada gunanya kita berperilaku angkuh dan sombong terhadap alam karena kita adalah manusia yang sangat rapuh ketika berhadapan dengan alam. Semoga alam tidak marah lagi kepada kita.