My Photo
Name:
Location: Kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat, Indonesia

Friday, February 17, 2006

HUJAN TURUN, BANJIRPUN TIBA

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatannya, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS : 30 : 41)”.

Bencana longsor merupakan salah satu persoalan yang sering muncul sepanjang tahun di negeri ini. Lebih tragis lagi, bencana itu sering menyebabkan melayangnya nyawa manusia, seperti yang terjadi di Kecamatan Panti dan Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, tanggal 1 januari 2006 yang lalu. Musibah yang terjadi pada minggu malam itu telah menelan lebih dari 60 jiwa manusia.

Tidaklah berlebihan bila ada yang mengatakan, Indonesia adalah negara sejuta bencana. Setiap hari kita selalu menyaksikan berita bencana alam, baik itu di televisi maupun surat kabar. Bagi masyarakat Indonesia, bencana alam sudah menjadi menu sehari-hari. Mereka tidak asing lagi dengan kejadian itu, meskipun sering menimbulkan duka yang teramat dalam.

Dari tahun ketahun bencana itu tidak pernah berhenti. Bahkan bertambah parah, dan korbanpun bertambah banyak. Contohnya sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat 647 kejadian bencana di Indonesia. Sekitar 85% atau sekitar 550 kejadian, bencana tersebut merupakan banjir dan longsor. Jumlah korban jiwa yang diakibatkan oleh kedua jenis becana ini adalah 1.711 jiwa. Bila dirata-ratakan, jumlah korban yang tewas selama periode tersebut adalah 311 orang per tahun. Artinya, dalam tujuh hari, sekitar 6 orang meninggal karena terseret banjir dan tertimbun tanah longsor.

Berdasarkan pemantauan Wahana Lingkungan Hidup, sejak pertengahan tahun 2003 sampai pertengahan 2004, telah terjadi ratusan bencana dan mengakibatkan hampir 1000 korban jiwa. Lebih mengerikan lagi, bencana yang terjadi pada akhir tahun 2004, yakni tragedi tsunami. Diperkirakan sekitar 200 ribu jiwa melayang. Tingginya korban bencana tsunami, salah satunya disebabkan oleh hilangnya hutan pantai dan hutan bakau di sepanjang pesisir barat Propinsi Nangro Aceh Darusalam. Hal ini karena massa air yang berasal dari laut tidak ditahan terlebih dahulu oleh kedua hutan tersebut.

Terjadinya bencana alam hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Khusus di Pulau Jawa, berdasarkan data yang tercatat oleh Kimpraswil, bencana alam yang terjadi sejak tahun 2003 hingga pertengahan tahun 2005 sebanyak 45 kejadian, dan menewaskan 154 orang. Dari semua itu, Propinsi Jawa Barat merupakan propinsi yang paling banyak mengalami bencana. Sebanyak 26 kali terjadi di propinsi ini, dan jumlah yang tewas sebanyak 136 orang.

Terjadinya banjir dan longsor tidak lepas dari aktivitas manusia. Alam tidak akan bereaksi apa-apa terhadap manusia bila manusia juga tidak berbuat sesuatu terhadap alam. Jadi manusialah pemicu terjadinya bencana ini. Aksi dan reaksi adalah sebuah hukum alam. Dalam ilmu kimia, proses reaksi adalah upaya untuk mencapai keseimbangan. Banjir dan lonsor hanyalah bentuk reaksi alam terhadap aksi manusia untuk mencapai keseimbangannya.

Manusia adalah makhluk yang cenderung senang merusak alam. Di Kalimantan, Sumatera, apalagi di Pulau jawa, sebagian besar hutannya sudah rusak. Manusia telah menebang hutan dengan seenaknya. Manusia jarang sekali – bahkan tidak – memikirkan apa yang akan terjadi bila hutan itu ditebang. Yang ada dalam pikirannya hanyalah keuntungan jangka pendek. Mereka lebih suka mengikuti keserakahannya daripada memikirkan dampak yang akan terjadi.
Pengurasan sumberdaya hutan secara berlebihan memberikan dampak negatif yang lebih besar dibanding dampak positifnya. Pemanfaatan hutan secara berlebihan tidaklah menguntungkan. Yang ada hanyalah kerugian, yang besarnya bisa jauh lebih tinggi dibanding keuntungan yang diperoleh karena penebangan.

Banjir dan longsor terjadi karena kerusakan hutan. Hutan yang rusak, telah menghilangkan fungsi ekologi. Ketika hujan turun, hutan tidak mampu menyerap air kedalam tanah secara maksimal. Hutan yang rusak telah mengurangi kesempatan air hujan untuk masuk ke dalam tanah. Pada hutan yang rusak, air yang mengalir melalui permukaan tanah akan lebih besar dibanding air yang meresap ke dalam tanah. Aliran permukaan ini akan mengikis dan mengangkut lapisan atas tanah ke daerah hilir. Pada titik tertentu, kondisi seperti inilah yang akan menyebabkan banjir dan longsor.

Banjir dan longsor yang terjadi di Kecamatan Panti dan Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember disebabkan oleh rusaknya hutan di lereng Pegunungan Agropuro. Demikian juga yang terjadi di Bohorok dan kawasan wisata Pemandian Air Panas Pacet; semua itu karena rusaknya kawasan hutan yang berada di daerah hulunya.

Kondisi hutan Indonesia sudah dalam tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Luas kawasan hutan yang rusak adalah 101,79 juta hektar (Badan Planologi Departemen Kehutanan, 2003). Laju keruskannya mencapai 2,8 juta hektar per tahun. Artinya, setiap menit, hutan ini mengalami pengurangan seluas 5 hektare. Bila kondisi ini dibiarkan tanpa ada upaya perbaikan, maka kurang dari 15 tahun lagi, hutan tropis Indonesia akan hilang. Sangat mengkhawatirkan bukan?.

Pada skala nasional, masyarakat sekitar hutan sering menjadi kambing hitam dalam kerusakan hutan. Banyak pihak menuduh, kerusakan hutan itu akibat penebangan liar oleh masyarakat sekitar. Padahal dalam kerusakan ini banyak komponen yang terlibat, baik oknum pejabat pemerintah, oknum petugas keamanan, dan oknum pengusaha hutan. Masyarakat sekitar hanya komponen kecil saja. Beberapa pejabat pemerintah dan petugas keamanan mudah disuap oleh para pengusaha. Beberapa pegusaha hutan juga sering penampung kayu hasil penebangan liar. Kondisi ini telah membentuk lingkaran setan yang sangat rumit.

Kerusakan hutan lebih disebabkan oleh kesalahan kolektif multi pihak. Sebaliknya, masyarakatlah yang sering menanggung akibatnya. Ketika kemarau tiba, mereka kekurangan air. Ketika hujan turun, mereka terkena longsor dan banjir. Sementara masyarakat sedang tertimpa bencana, para pengusaha hutan dan para oknum asyik berpesta pora menikmati hasil kurasannya.

Berubahnya pola pikir umat manusia secara global telah memicu kerusakan hutan termasuk hutan tropis. Etika manusia terhadap lingkungannya semakin mendekati titik nol. Sebagian besar manusia menganggap hutan adalah sumberdaya alam yang dapat dikuasai. Mereka menganggap alam bisa diperlakukan dengan seenaknya. Mereka tidak menyadari, bila dirinya itu bagian dari alam.

Ketika alam mengeluarakan “amarahnya”, manusia telah menjadi makhluk yang sangat rapuh. Keangkuhannya pun tidak berguna lagi. Ketika banjir datang, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Demikian juga pada saat longsor tiba, manusia tidak bisa banyak berbuat. Bahkan manusia telah menjadi korban dari kemarahan alam itu. Diantara mereka ada yang terbawa hanyut banjir atau tertimbun tanah. Tempat tinggal mereka lenyap dalam sekejap.

Banjir dan longsor adalah upaya alam untuk mencapai kembali keseimbangannya setelah manusia merusaknya. Banjir dan longsor akan tetap terjadi bila kita semua masih senang merusak hutan. Cukup kiranya, tragedi Bohorok, tragedi pemandian air panas Pacet, tragedi Garut, dan tragedi Jember yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu sebagai cermin kita semua. Untuk itu, janganlah menyalahkan alam atau nasib.Mulai saat ini, marilah kita mencintai alam. Marilah kita menghormati alam sebagaimana kita menghormati sesama manusia. Tidak ada gunanya kita berperilaku angkuh dan sombong terhadap alam karena kita adalah manusia yang sangat rapuh ketika berhadapan dengan alam. Semoga alam tidak marah lagi kepada kita.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home