MENANAM POHON PUN IBADAH
“Tidaklah seorang muslim yang menanam pohon-pohonan atau tumbuh-tumbuhan, yang sebagian hasilnya dimakan oleh burung, manusia atau hewan, melainkan apa yang dimakan itu menjadi shadaqah baginya” (H.R. Bukhari, Muslim, dan At-Turmudzi).
Disadari atau tidak, ketika kita menanam pohon atau tumbuhan, yang hadir dalam benak hanyalah aspek ekonomi. Bila mengkaji lebih mendalam, kita akan menemukan aspek yang jauh lebih penting dibanding aspek tersebut. Sebagai makhluk yang mempercayai adanya Tuhan, tidak syak lagi akan mendapatkan aspek religius.
Hingga kini, aspek religius merupakan aspek yang belum banyak dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat kita dalam kaitannya menanam pohon. Kita hanya senang mengitung-hitung berapa nominal yang akan diperoleh. Semua itu hanyalah akan melahirkan “ide-ide jangka pendek”. Kita semua dapat memakluminya. Ini merupakan konsekuensi dari jaman yang serba materialis dan sekuler.
Tidaklah heran ketika tanaman kita mendapat serangan hama atau penyakit, akan muncul rasa kecewa sekaligus marah dan sedih. Tidak menutup kemungkinan pula kita akan menjadi “sang eksekutor” yang cukup menakutkan. Ketika gerombolan tikus memakan padi, kita meracunnya. Ketika kawanan tupai menyerang kelapa di kebun, kita menembakinya. Ketika kelompok kelelawar memanen buah-buahan, kita membunuhnya. Tampaknya kita tidak mau berbagi rejeki sedikitpun dengan makhluk lainnya.
Hadits di atas semoga menjadi pencerahan bagi kita semua karena telah memberikan kabar yang amat menggembirakan. Dengan menanam pohon kita akan mendapat pahala dari Allah Swt. Tidak syak lagi, pohon yang tumbuh besar akan memberikan banyak manfaat bagi semua makhluk hidup dan lingkunganya. Tidak satu bagianpun dari pohon yang tidak memberikan manfaat. Pada saat berbunga, ratusan kumbang dan burung beramai-ramai menghisap madunya. Pada saat berbuah, ratusan satwa bersukacita memanennya, tak ketinggalan juga manusia. Daun-daun yang berguguran menjadi makanan bagi jutaan mikroorganime yang ada di bawahnya. Tajuk yang lebat dan rindang menjadi tempat bersarang bagi berbagai satwa serta tempat peneduh yang menyejukkan bagi setiap yang membutuhkan. Akar-akar yang menancap ke bumi menjadi penahan longsor dan erosi. Oksigen yang dihasilkan menjadi udara yang sangat menyegarkan bagi setiap makhluk hidup. Dahan dan ranting yang mengering menjadi sumber kayu bakar bagi manusia.
Tidakkah kita tertarik akan makna yang dikandung dalam hadits tersebut? Hanya dengan menanam satu pohon saja, kita akan memperoleh banyak pahala, karena semua makhluk hidup akan merasakan banyak manfaatnya. Pahala akan tetap mengalir selama pohon itu ada.
Bayangkan, berapa pahala yang akan didapat bila pohon yang kita tanam itu berjumlah sepuluh, seratus, atau seribu batang? Belum lagi mengalikannya dengan usia keberadaan pohon tersebut: sepuluh, dua puluh, lima puluh, atau seratus tahun. Dan kita tahu bahwa setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik pohon tersebut senantiasa memberikan manfaat. Sungguh luar biasa bukan. Allah Swt akan memberikan imbalan kepada setiap hamba yang berbuat kebaikan. Hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui.
Hitungan ini akan lebih fantastis lagi bila tanaman yang kita tanam dapat menyimpan air dalam tanah. Kemudian air yang tersimpan itu menjadi berpuluh-puluh mata air yang mampu mengairi danau dan sungai sepanjang tahun. Sedangkan di bagian hilirnya terdapat ratusan atau ribuan hektar lahan pertanian serta ribuan manusia yang semuanya memanfaatkan air dari kedua sumber tersebut. Barangkali tidaklah berlebihan bila semua ini kita mengistilahkannya sebagai “multi level pahala”. Gambaran ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua masyarakat Wilayah III Cirebon atau yang lainnya. Dengan memelihara dan melakukan penghijauan di Kawasan Hutan Gunung Ciremai, berarti kita telah melakukan pekerjaan yang sangat mulia. Kita telah menyediakan air bagi masyarakat Kabupaten Kuningan, Kabupaten/Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, bahkan sampai Kabupaten Tegal dan Ciamis. Semua itu adalah ibadah.
Allah menciptakan manusia di muka bumi ini sebagai khalifah. Manusia adalah pemimpin bagi seluruh alam. Tidak ada pengecualian, baik manusia, tumbuhan, binatang, maupun mikroorganisme, bahkan benda mati sekalipun, semuanya di bawah tanggung jawab manusia. Manusia harus menjaga dan mengelolanya sebaik mungkin. Ini adalah amanat dari-Nya. Sebenarnya, ketika Allah Swt. meniupkan roh ke dalam raga kita, ketika itu kita bersepakat dengan-Nya untuk menjadi manusia yang patuh dan taat. Allah Swt akan murka bila manusia mengingkari kesepakatan-Nya. Sebaliknya, Allah Swt. akan memberikan imbalan yang berlipat ganda bila kesepakatan itu dilaksanakan sebaik-baiknya.
Sebagai pemimpin di muka bumi, manusia harus senantiasa melayani dan memenuhi hak-hak seluruh isi alam. Tidak hanya manusia yang harus dilayani, melainkan juga tumbuhan dan binatang termasuk tanah sebagai tempat berpijaknya. Semuanya harus dilaksanakan dengan adil dan penuh tanggung jawab. Bila tumbuhan atau binatang sakit, manusialah yang harus mengobati dan merawatnya. Bila lahannya rusak, manusialah yang harus memperbaikinya. Jangan malah memusnahkannya.Jelaslah bahwa Allah Swt. akan memberikan pahala kepada hamba-Nya bukan hanya karena hamba tersebut telah menunaikan ibadah shalat, zakat, puasa, atau naik haji. Allah Swt. juga akan memberikan hadiah kepada hamba yang melaksanakan setiap kebajikan, sekalipun hanya menanam pohon atau tumbuhan. Untuk itu marilah kita menanam pohon demi kebaikan di dunia dan akirat. Selama pohon itu ada, selama itu pula pahala senantiasa mengalir. Subhanallah. Wallahu a’lam bishawab.
“Tidaklah seorang muslim yang menanam pohon-pohonan atau tumbuh-tumbuhan, yang sebagian hasilnya dimakan oleh burung, manusia atau hewan, melainkan apa yang dimakan itu menjadi shadaqah baginya” (H.R. Bukhari, Muslim, dan At-Turmudzi).
Disadari atau tidak, ketika kita menanam pohon atau tumbuhan, yang hadir dalam benak hanyalah aspek ekonomi. Bila mengkaji lebih mendalam, kita akan menemukan aspek yang jauh lebih penting dibanding aspek tersebut. Sebagai makhluk yang mempercayai adanya Tuhan, tidak syak lagi akan mendapatkan aspek religius.
Hingga kini, aspek religius merupakan aspek yang belum banyak dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat kita dalam kaitannya menanam pohon. Kita hanya senang mengitung-hitung berapa nominal yang akan diperoleh. Semua itu hanyalah akan melahirkan “ide-ide jangka pendek”. Kita semua dapat memakluminya. Ini merupakan konsekuensi dari jaman yang serba materialis dan sekuler.
Tidaklah heran ketika tanaman kita mendapat serangan hama atau penyakit, akan muncul rasa kecewa sekaligus marah dan sedih. Tidak menutup kemungkinan pula kita akan menjadi “sang eksekutor” yang cukup menakutkan. Ketika gerombolan tikus memakan padi, kita meracunnya. Ketika kawanan tupai menyerang kelapa di kebun, kita menembakinya. Ketika kelompok kelelawar memanen buah-buahan, kita membunuhnya. Tampaknya kita tidak mau berbagi rejeki sedikitpun dengan makhluk lainnya.
Hadits di atas semoga menjadi pencerahan bagi kita semua karena telah memberikan kabar yang amat menggembirakan. Dengan menanam pohon kita akan mendapat pahala dari Allah Swt. Tidak syak lagi, pohon yang tumbuh besar akan memberikan banyak manfaat bagi semua makhluk hidup dan lingkunganya. Tidak satu bagianpun dari pohon yang tidak memberikan manfaat. Pada saat berbunga, ratusan kumbang dan burung beramai-ramai menghisap madunya. Pada saat berbuah, ratusan satwa bersukacita memanennya, tak ketinggalan juga manusia. Daun-daun yang berguguran menjadi makanan bagi jutaan mikroorganime yang ada di bawahnya. Tajuk yang lebat dan rindang menjadi tempat bersarang bagi berbagai satwa serta tempat peneduh yang menyejukkan bagi setiap yang membutuhkan. Akar-akar yang menancap ke bumi menjadi penahan longsor dan erosi. Oksigen yang dihasilkan menjadi udara yang sangat menyegarkan bagi setiap makhluk hidup. Dahan dan ranting yang mengering menjadi sumber kayu bakar bagi manusia.
Tidakkah kita tertarik akan makna yang dikandung dalam hadits tersebut? Hanya dengan menanam satu pohon saja, kita akan memperoleh banyak pahala, karena semua makhluk hidup akan merasakan banyak manfaatnya. Pahala akan tetap mengalir selama pohon itu ada.
Bayangkan, berapa pahala yang akan didapat bila pohon yang kita tanam itu berjumlah sepuluh, seratus, atau seribu batang? Belum lagi mengalikannya dengan usia keberadaan pohon tersebut: sepuluh, dua puluh, lima puluh, atau seratus tahun. Dan kita tahu bahwa setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik pohon tersebut senantiasa memberikan manfaat. Sungguh luar biasa bukan. Allah Swt akan memberikan imbalan kepada setiap hamba yang berbuat kebaikan. Hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui.
Hitungan ini akan lebih fantastis lagi bila tanaman yang kita tanam dapat menyimpan air dalam tanah. Kemudian air yang tersimpan itu menjadi berpuluh-puluh mata air yang mampu mengairi danau dan sungai sepanjang tahun. Sedangkan di bagian hilirnya terdapat ratusan atau ribuan hektar lahan pertanian serta ribuan manusia yang semuanya memanfaatkan air dari kedua sumber tersebut. Barangkali tidaklah berlebihan bila semua ini kita mengistilahkannya sebagai “multi level pahala”. Gambaran ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua masyarakat Wilayah III Cirebon atau yang lainnya. Dengan memelihara dan melakukan penghijauan di Kawasan Hutan Gunung Ciremai, berarti kita telah melakukan pekerjaan yang sangat mulia. Kita telah menyediakan air bagi masyarakat Kabupaten Kuningan, Kabupaten/Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, bahkan sampai Kabupaten Tegal dan Ciamis. Semua itu adalah ibadah.
Allah menciptakan manusia di muka bumi ini sebagai khalifah. Manusia adalah pemimpin bagi seluruh alam. Tidak ada pengecualian, baik manusia, tumbuhan, binatang, maupun mikroorganisme, bahkan benda mati sekalipun, semuanya di bawah tanggung jawab manusia. Manusia harus menjaga dan mengelolanya sebaik mungkin. Ini adalah amanat dari-Nya. Sebenarnya, ketika Allah Swt. meniupkan roh ke dalam raga kita, ketika itu kita bersepakat dengan-Nya untuk menjadi manusia yang patuh dan taat. Allah Swt akan murka bila manusia mengingkari kesepakatan-Nya. Sebaliknya, Allah Swt. akan memberikan imbalan yang berlipat ganda bila kesepakatan itu dilaksanakan sebaik-baiknya.
Sebagai pemimpin di muka bumi, manusia harus senantiasa melayani dan memenuhi hak-hak seluruh isi alam. Tidak hanya manusia yang harus dilayani, melainkan juga tumbuhan dan binatang termasuk tanah sebagai tempat berpijaknya. Semuanya harus dilaksanakan dengan adil dan penuh tanggung jawab. Bila tumbuhan atau binatang sakit, manusialah yang harus mengobati dan merawatnya. Bila lahannya rusak, manusialah yang harus memperbaikinya. Jangan malah memusnahkannya.Jelaslah bahwa Allah Swt. akan memberikan pahala kepada hamba-Nya bukan hanya karena hamba tersebut telah menunaikan ibadah shalat, zakat, puasa, atau naik haji. Allah Swt. juga akan memberikan hadiah kepada hamba yang melaksanakan setiap kebajikan, sekalipun hanya menanam pohon atau tumbuhan. Untuk itu marilah kita menanam pohon demi kebaikan di dunia dan akirat. Selama pohon itu ada, selama itu pula pahala senantiasa mengalir. Subhanallah. Wallahu a’lam bishawab.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home